Rabu, Februari 8

Resesi adalah “musibah” ekonomi paling buruk yang dapat menerpa satu negara. Awan hitam ini dapat tiba kapan pun, terlebih sesudah wabah Covid-19 menerpa dunia.

Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, beberapa negara diprediksikan jatuh ke jurang krisis 2023. Pengakuan ini diamini oleh organisasi Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund / IMF).

Saat resesi terjadi, tidak cuma keuangan negara dan pelaku bisnis raksasa yang kalang kabut. Imbas paling besarnya malah berasa ke warga dengan ekonomi menengah ke bawah.

Lalu, sebetulnya apakah itu resesi? Mengapa resesi dapat terjadi? Siapa yang hendak terkena imbas? Apa Indonesia akan merasakannya? Dalam artikel ini akan menerangkan istilah resersi selengkapnya dan mendalam. Simak penjelasannya dibawah ini ya.

Apa Itu Resesi Ekonomi?

Apa Itu Resesi Ekonomi

Saat sebelum mengaitkan pemahaman resesi pada dasarnya, Pahami dulu beberapa pengertian resesi menurut sejumlah pakar atau ahli.

Menurut Instansi Analisa Ekonomi Nasional (NBER), resesi ialah pengurangan signifikan dalam kegiatan perekonomian yang menyebar di semua ekonomi, terjadi lebih dari sekian bulan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan, krisis sebagai keadaan di mana ekonomi satu negara sedang lebih buruk yang kelihatan dari PDB yang negatif, pengangguran bertambah, atau kemajuan ekonomi nyata berharga negatif sepanjang dua kwartal beruntun.

Sementara, diambil dari Forbes, ekonom Julius Shiskin menjelaskan jika resesi adalah pengurangan PDB yang terjadi sepanjang dua kwartal beruntun.

Pada dasarnya, dapat dimengerti jika makna resesi ialah keadaan berkurangnya kualitas ekonomi satu negara, dari yang semula positif jadi minus. Satu negara dapat disebutkan alami krisis jika ekonominya “sakit” minimal dalam kurun waktu enam bulan.

Penyebab Umum Resesi Ekonomi

Penyebab Umum Resesi Ekonomi

Semestinya manusia, untuk sebuah negara dapat dikatakan “sakit” jika terkena virus, baik dari pada tubuh atau dari lingkungan luar. Minimal, ada banyak virus yang membuat negara dapat terkena resesi, diantaranya:

1. Guncangan Ekonomi Tiba-tiba

Ekonomi negara yang konstan sekalinya pasti goyang bila ada guncangan tiba-tiba. Misalnya, wabah Covid-19 yang menerpa dunia pada awal tahun 2020.

Kamu dapat menyaksikan dan rasakan bagaimana dunia berbeda karena guncangan tiba-tiba ini. Banyak yang terserang PHK, banyak usaha kecil tutup, banyak sejumlah perusahaan yang alami rugi, bahkan juga negara dapat menimbun hutang karena itu.

2. Tingginya Inflasi

Menurut Bank Indonesia, inflasi ialah peningkatan harga barang dan jasa pada umumnya dan terus-terusan dalam periode waktu tertentu. Tetapi, naiknya harga ini tidak disertai daya membeli warga yang bertambah.

Inflasi ini tengah dicurigai sebagian besar negara di dunia, terhitung juga Indonesia. Masalahnya, harga energi dan pangan naik menggila sampai 30%. Karena itu, harga minyak goreng dan BBM makin mahal. Bahkan juga, beberapa besar orang tidak sanggup membeli.

Apabila sudah demikian, produksi barang dan jasa mempunyai potensi turun. Jika seperti ini terus, pabrik dapat tutup dan para pekerja akan terdampak PHK kembali. Dengan demikian, krisis global bisa terjadi.

3. Tingginya Deflasi

Jika deflasi ini rivalnya inflasi. Deflasi ialah keadaan di mana harga barang dan jasa alami pengurangan terus-terusan. Mengakibatkan, produsen tidak untung karena produknya dipasarkan pada harga benar-benar murah.

Uang yang tersebar dalam masyarakat mempunyai potensi tidak teratasi. Jika sudah demikian, aturan ekonomi satu negara dapat hancur.

4. Suku Bunga Referensi Tinggi

Suku bunga ialah satu instrument yang berperan jaga nilai mata uang agar tidak begitu rendah atau tinggi. Tetapi, jika penentuan suku bunga tidak dipikir matang-matang, justru dapat berpengaruh besar ke ekonomi.

Suku bunga yang tinggi dapat membuat beberapa orang yang berutang kesusahan bayar hutang mereka. Pada akhirnya, terjadi kredit macet. Jika beberapa orang tidak berhasil bayar hutang, perbankan dapat bangkrut.

5. Berlangsungnya Gelembung Aset (Asset Bubble)

Peristiwa gelembung aset dapat terjadi saat investor beramai-ramai beli satu aset investasi tanpa pahami resiko mendasar. Mereka cuma beli aset itu, lalu mengharap harga akan naik di masa datang.

Karena banyak yang membeli, harga aset ini akan naik tajam dalam sekejap. Tetapi, saat tidak ada yang membeli, harga jatuh sekali di pasar. Jika sudah semacam ini, mereka akan lakukan panic selling. Dan pada saat tersebut, ekonomi amburadul karena volatilitas di pasar keuangan ini.

6. Perubahan Teknologi

Tidak boleh salah, teknologi yang makin handal bisa juga jadi pemicu krisis dunia. Masalahnya, mayoritas lapangan pekerjaan akan dihapus dan pekerjaannya dilaksanakan oleh Artificial Intelligence (AI) atau robot.

Contoh mudah yang dapat kamu alami ialah mulai lenyapnya peranan teller di bank. Sekarang, kamu dapat membuat rekening bank, mengirimi uang, terima uang, dan yang lain cuma lewat satu program mesin perbankan.

Apa Saja Ciri-ciri Resesi Ekonomi?

Apa Saja Ciri-ciri Resesi Ekonomi

Lalu, apa tanda berlangsungnya resesi ekonomi pada sebuah negara? Secara umumnya, kamu dapat simak dari keadaan berikut:

  1. Ekonomi minus dua kwartal atau lebih secara beruntun.
  2. Volume import semakin besar dibanding export.
  3. Lapangan pekerjaan makin berkurang.
  4. Pengangguran makin bertambah.
  5. Persediaan barang yang dibuat terlalu berlebih atau terlampau sedikit (tidak imbang).
  6. Harga barang dasar naik tajam.

Bila satu negara alami mayoritas beberapa ciri ini, karena itu telah ditegaskan negara itu masuk ke jurang krisis. Atau, minimal segera masuk ke gerbang krisis.

Apa yang Terjadi Kalau Negara Mengalami Resesi?

Apa yang Terjadi Kalau Negara Mengalami Resesi

Lalu, jika resesi global terjadi, apa efeknya untuk satu negara? Siapa yang terserang dampak terbesar? Minimal, ada tiga pihak yang dirugikan gara-gara musibah ekonomi ini.

1. Warga

Sudah tentu, imbas paling besar krisis akan memukul keras warga, khususnya mereka yang dari kelompok ekonomi menengah ke bawah.

Mereka akan makin kesusahan beli barang dan jasa karena harga makin mahal. Terlebih lagi kalau gaji atau penghasilan mereka tidak naik. Lebih menakutkan lagi jika mereka sampai di-PHK dari perusahaannya.

Hidup warga jadi tidak sejahtera. Pengangguran makin menjalar. Yang kaya akan miskin, yang miskin akan makin miskin. Kemiskinan juga akan bertambah dengan tajam.

2. Perusahaan

Karena warga tidak dapat membeli barang atau jasa, produk dari perusahaan tidak akan terjual. Penghasilan perusahaan menyusut mencolok, bahkan juga dapat pailit. Pegawai yang dipertahankan pada akhirnya terkena PHK juga.

3. Pemerintahan

Daya membeli warga kurang kuat, perusahaan tidak berhasil bayar pajak. Sudah pasti penghasilan negara akan menyusut dratis. Tetapi di lain sisi, beragam program untuk warga dan perusahaan tetap harus jalan.

Jalan paling akhir ialah berutang ke negara lain. Mengakibatkan, hutang negara makin menumpuk. Penghasilan negara ke depan dipakai sebagian untuk bayar hutang.

Apakah Indonesia Termasuk Negara Resesi?

Apakah Indonesia Termasuk Negara Resesi

Lalu, bagaimana dengan krisis Indonesia? Apa negara kita terhitung negara resesi? Jika diperhatikan, sebetulnya, mayoritas beberapa ciri yang seperti yang disebut di atas berada di Indonesia.

Tetapi, volume ekspor Indonesia masih semakin besar dibanding impornya, minimal secara bulanan (month to month). Berdasar data Badan Pusat Statistika (BPS), Indonesia alami surplus neraca dagang US$ 5,76 miliar pada bulan Agustus 2022. Exportnya US$ 27,91 miliar, dan impornya US$ 22,15 miliar.

Pemerintahan katakan, perekonomian Indonesia masih tumbuh positif. Pada kwartal II 2022, perekonomian Indonesia naik 5,44% (year on year). Dan di kwartal I 2022, perkembangannya 5,01%.

Karena dua tanda besar ini masih positif, jadi sekarang ini, Indonesia belum sah dipastikan resesi. Tetapi, kita tetap harus siaga bila hal tersebut terjadi setiap saat.

Indonesia sendiri sebetulnya pernah krisis saat wabah Covid-19 menerpa tahun 2020 kemarin. Saat itu, perekonomian Indonesia di kwartal II dan III 2020 minus masing-masing 5,32% dan 3,49%.

Apakah Resesi 2023 Bisa Terjadi? Lantas Apa Pemicunya?

Apakah Resesi 2023 Bisa Terjadi

Tahun 2023, banyak pihak yang meramalkan ekonomi global akan alami resesi. Benarkah perkiraan itu? Lantas Apa pemicunya?

Menurut beberapa ekonom, resesi 2023 bisa jadi terjadi, apa lagi dengan adanya banyak guncangan ekonomi yang berlangsung pada tahun 2022. Guncangan apa sajakah?

1. Perang Rusia-Ukraina

Perang dingin ini diawali semenjak Februari 2022 lalu, disebabkan karena persaingan perebutan daerah. Selainnya memunculkan kerusakan infrastruktur, beberapa kerja sama terputus, khususnya dalam sektor energi dan pangan.

Dalam sektor energi, Rusia memutuskan suplai gas untuk Ukraina dan beberapa negara Eropa (sekutu Ukraina). Di lain sisi, Ukraina sebagai penyuplai bahan pangan berbentuk gandum juga hentikan export. Karena itu, harga energi dan bahan pangan naik sampai 30%.

2. Inflasi

Harga energi dan pangan yang naik menggila ini membuat beberapa negara alami inflasi paling tinggi. Contoh saja Inggris, capai 9,9% per Agustus 2022. Begitu halnya Indonesia yang alami peningkatan inflasi jadi 4,94% (year on year).

3. Wabah Covid-19

Di lain sisi, wabah Covid-19 belum betul-betul selesai. Efeknya masih berasa sampai sekarang ini. Walau banyak bisnis dan usaha yang bangun, beberapa negara masih berusaha untuk menghidupkan kembali ekonomi mereka, khususnya negara berkembang.

Bagaimana Cara Menghindari Resesi 2023?

Bagaimana Cara Menghindari Resesi 2023

Sama seperti yang telah di uraikan, tidak tutup peluang, jika Indonesia dapat terserang krisis bila kegiatan ekonominya amburadul. Agar tidak terjadi, ada banyak cara yang perlu dilaksanakan pemerintahan seperti:

  1. Menjaga daya membeli warga, lewat bansos, tunjangan UMKM, dan yang lain.
  2. Penempatan dana pemerintahan di perbankan supaya bank dapat salurkan modal usaha untuk warga.
  3. Kembalikan keyakinan investor yang kuatir atau takut melakukan investasi di Indonesia dengan peraturan investasi yang akurat.
  4. Buat lapangan pekerjaan padat karya melalui proyek pembangunan infrastruktur dalam negeri.

Kamu bisa juga membuat perlindungan diri dari teror krisis ini. Kamu dapat mengawali dari cara kecil, misalnya:

  1. Mengendalikan ulang pada keuanganmu secara baik.
  2. Tidak boros.
  3. Kurangi dan melunaskan hutang.
  4. Persiapkan dana krisis minimum 3-8 bulan penghasilan.
  5. Cari sumber penghasilan lain.
  6. Mulai investasi dan menabung.

Resesi adalah awan hitam yang mengerikan, tetapi jika kita bersiaga dengan bawa payung, kita dapat terlepas dari hujan deras mendatang.

Walau cuma perumpamaan, percayalah kalau kamu mengerti jika mungkin ataupun tidak, krisis bisa saja akan menerpa negara kita setiap saat.

Pemerintahan pasti melakukan tindakan membuat perlindungan negara, tetapi, sebagai masyarakat negara, kita harus menyiapkan diri agar dapat tahan banting. Mudah-mudahan keterangan dari penjelasan umum tentang apa itu resersi dan dampaknya bisa menambahkan pandangan kamu, ya!

Share.
Exit mobile version